Tingkah Laku Sosiopatik


A.     Berbagai Pendekatan tentang Tingkah Laku Sosiopatik
Para biolog juga menmpilkan minatnya terhadap gejala patologi social, yaitu menyatakan adanya penyimpangan-penyimpangan patologis atau kelas-kelas defektif dalam masyarakat. Bentuk-bentuk tingkah laku yang menyimpang secara social dan sangat ditilak oleh umum, seperti homoseksual, alkoholisme kronis, dan gangguan-gangguan mental tertentu itu menurut teori biologi disebabkan oleh peristiwa-peristiwa sebagai berikut:

1.   Melalui gen atau plasma pembawa sifat di dalam keturunan atau melalui kombinasi dari gen-gen, ataupun disebabkan oleh tidak adanya gen tertentu.
2.   Melalui pewarisan tipe-tipe kecenderungan yang luar biasa/ abnormal
3.   Melalui pewarisan kelemahan konstitusional tertentu yang mengakibatkan tingkah laku sosiopatik. Pandangan psikologis dan psikiatri menekankan sebab-sebab tingkah laku patologis dari aspek social-psikologis, sehingga orang melanggar norma social yang ada. Faktor-faktor yang memepengaruhi diantaranya: intelegensi, ciri-ciri kepribadian, motivasi, sikap hidup yang keliru, dan internalisasi diri yang salah, dan konflik emosional dan kecenderungan psikopatologis yang ada di balik tingkah laku menyimpang secara social.
Selanjutnya para sosiolog berpendapat bahwa perilaku sosiopatis diakrenakan factor kultural dan social yang sangat mempengaruhi struktur organisasi social, peranan, status individu, partisipasi social.

B.     Postulat/ Dalil mengenai Penyimpangan Tingkah Laku Sosiopatik
1.   Tingkah laku sosiopatik mempunyai ciri khusus dan dianggap sosiopatik pada waktu tertentu dan tempat tertentu.
2.   Penyimpangan tingkah laku adalah produk dari konflik social dan konflik internal/ pribadi yang ditampakkan keluar dalam bentuk penerimaan samapi penolakan. Penolakan sangat bergabtung dari derajat penyimpangan tingkah laku.
3.   Orang mengadakan larangan dan pembatasan terhadap kebebasan berpartisipasinya para penyimpang. Larangan tersebut tergantung pada status, peran, pendefinisian diri, dan penampakkan yang jelas dari tingkah laku mereka.

C.     Pengertian Sosiopatik
Istilah psikopat yang sejak 1952 diganti dengan Sosiopat dan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) II 1968 resmi dinamakan Sosiopat. Hare menyamakannya dengan salah satu kelainan, yaitu Anti Social Personality Disorder (Hare, Hart & Harpur, 1991). Istilah psikopat yang sudah sangat dikenal masyarakat justru tidak ditemukan dalam DSM IV. Artinya, psikopat tidak tercantum dalam daftar penyakit, gangguan atau kelainan jiwa di lingkungan ahli kedokteran jiwa Amerika Serikat. Psikopat dalam kedokteran jiwa masuk dalam klasifikasi gangguan kepribadian dissosial. Psikopat tak sama dengan skizofrenia karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Pengidap psikopat juga sering disebut sebagai sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya.
Psikopat – Psycho atau Sosiopatik = Anti Sosial. Psikopat adalah seseorang yang dapat memutarbalikan/ menyembunyikan fakta, alibi dan tidak mempunyai rasa bersalah/ malu atau penyesalan sama sekali atas suatu perilaku merugikan yang dilakukan oleh dirinya, terkesan cerdik, smart (pintar), pandai mengelak, manipulatif dan jago berargumentasi melalui artikulasi berbahasa saat melakukan suatu kejahatan yang sempurna dalam bentuk penubunuhan fisik atau psikologis. Dr. Hare melaporkan bahwa 1% dari penduduk dunia adalah psikopat dan seperempatnya melakukan bunuh diri. Seorang psikopat dikatakan mengalami suatu gangguan kepribadian anti sosial, dimana mereka tidak mempunyai emosional insight tetapi memiliki intelektual insight. Pola asuh yang salah pada masa kanak sering berkontribusi pada kejadian anti sosial pada waktu dewasa.
Menurut kaum sosiolog tingkah laku sosiopatik adalah tingkah laku yang berbeda dan menyimpang dari kebiasaan serta norma umum, yang ada pada suatu tempat dan waktu tertentu yang ditolak sekalipun tingkah laku tersebut di tempat dan waktu lain bisa diterima oleh masyarakat lainnya.
Sosiopatik atau dapat pula disebut psikopatik adalah tingkah laku yang menyimpang dari norma masyarakat dimana pelakunya bukanlah pengidap penyakit mental dan tidak mempedulikan keadaan sekitar (anti sosial).

D.    Ciri-ciri Perilaku Sosiopatik (Psikopatik)
1.   Hare mengungkapkan empat ciri karakter, yakni antisosial (antisocial), pribadi yang sulit diduga (borderlne), pandai bersandiwara (histrionic) dan egois (narcisstic).
§  Seseorang yang antisosial biasanya cuek pada norma-norma sosial, tak peduli pada aturan, dan pemberontak. Kepribadiannya yang sulit ditebak (borderlne), bisa terlihat dari ketidakstabilannya dalam hubungan interpersonal, citra diri, serta selalu bertindak menuruti kata hati. Tanpa peduli perbuatannya itu salah atau benar, mengganggu orang atau tidak.
§  Orang seperti ini cenderung impulsif (melakukan sesuatu tanpa pikir panjang), dan berpikiran negatif. Ia juga memiliki sifat pendendam. Sedikit saja Anda melakukan kesalahan, seumur hidup diingat dan suatu saat akan diungkit lagi. Sedangkan pribadi histrionic, emosinya tak terkendali alias meledak-ledak, dan selalu ingin menarik perhatian.
§  Kepribadian narcisstic, yang ditunjukkan dengan sikapnya yang selalu ingin dikagumi, serta minimnya empati. Ia selalu berusaha membuat hanya dirinya satu-satunya lelaki dalam hidup Anda. Hanya dialah yang boleh Anda puja.
2.   Tidak pernah merasa menyesal, meski telah menyakiti orang lain. Bila ketahuan bersalah, wajahnya akan tetap seperti tak berdosa.
3.   Sepintas, gelagat mereka tidak kelihatan seperti orang yang punya kelainan. Pasalnya, secara tampak mata mereka terlihat menarik, pintar dan berlaku seperti orang normal lainnya.
4.   Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
5.   Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
6.   Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
7.   Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
8.   Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
9.   Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar. Bagi psikopat hal ini tidak berlaku karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
10.        Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.

E.     Jenis-jenis Psikopat/Sosiopat
Menurut Hervey Checkley dalam bukunya The Mask of Sanity (1941), ada empat jenis psikopat:
1.   Primary Psychopath yang bergeming pada hukuman, penahanan, tekanan, atau celaan. Mereka punya cara sendiri untuk memaknai kata dan kehidupan.
2.   Secondary Psychopath adalah pengambil resiko, dan juga lebih tanggap terhadap tekanan, mudah cemas dan merasa bersalah.
3.   Distempered Psychopath, cenderung mudah marah dan bila kumat, tingkah mereka mirip penderita epilepsi (ayan), cenderung jadi pecandu obat, kleptomania, pedofilia, bahkan bisa jadi pembunuh dan pemerkosa berantai.
4.   Charismatic Psychopath adalah si pembohong yang menarik dan menawan, selalu dianugerahi bakat tertentu, tapi memanfaatkannya untuk memperdaya yang lain. Pemimpin agama sekte tertentu yang mendorong pengikutnya bunuh diri bisa jadi contoh.

F.      Mobilitas pada Individu-individu Sosiopatik
Pada umumnya, individu-individu dan kelompok-kelompok yang menyimpang itu sangat mobile sifatnya. Pribadi-pribadi dengan mobilitas vertikal dan mobilitas spasial/ruang yang rendah, sangat dibatasi ruang geraknya oleh para anggota kelompok/lingkungan lainnya. Mereka memilki afinitas atau daya-kait yang tinggi dengan anggota-anggota kelompok sendiri. Sebaliknya, orang-orang yang merasa ditolak oleh lingkungannya, tidak mempunyai tempat dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan anggota-anggota kelompoknya, pasti punya kecenderungan kuat untuk keluar dari daerah tempat tinggalnya. Dan besar keinginannya untuk bermigrasi ke dalam masyarakat dengan struktur organisasi yang berbeda. Tidak jarang mereka itu berpindah-pindah tempat tinggal untuk memperluas komunikasi dan habitat atau tempat tinggal. Jadi, ruang gerak mereka menjadi lebih luas dan longgar.
Para penjahat itu pada umumnya merupakan individu dengan mobilitas tinggi. Namun, pada hakikatnya mereka itu terisolisasi dari bagian terbesar masyarakat normal. Biasanya mereka terpaksa meninggalkan pola hidup kawin/berkeluarga. Sebab, resiko ditangkap dan dimasukkan dalam penjara besar sekali. Setiap saat mereka bisa berurusan dan baku-tembak dengan polisi. Maka pemuasan dorongan seksual terpaksa disalurkan melalui relasi dengan wanita-wanita tuna-susila atau dengan wanita-wanita “piaraan” yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hubungan mereka dengan anggota-anggota masyarakat normal sangat terbatas dan tidak akrab. Mereka bahkan diamati dengan rasa curiga, baik oleh para anggota masyarakat pada umumnya, maupun oleh penjahat-penjahat lokal lainnya, oleh polisi dan penguasa setempat.
Individu yang dianggap sebagai pesona non grata-pribadi yang tidak diterima, tidak mendapatkan pengampunan-oleh tingkah lakunya yang menyimpang, praktis akan dikucilkan atau dikeluarkan sama sekali dari semua partisipasi sosial oleh masyarakat, dan secara geografis tidak banyak berkomunikasi dengan daerah luar. Khususnya individu yang dianggap berbahaya oleh kepala suku (clan, kampung, kelompok), akan ditolak sama sekali bahkan diusir dari daerah tersebut. Maka tekanan-tekanan sosial yang sentripental-keluar dari tokoh pemimpin yang dianggap sebagai kekuatan suku-mempunyai daya memaksa yang kuat sekali.

G.    Factor Penyebab
Factor utama yang menyebabkan orang bertindak sosiopat memang belum jelas hingga kini. Tapi hipotesis yang diajukan Hare menduga psikopat terjadi akibat kelainan fungsi otak. Ini didasarkan pengalaman Hare saat memeriksa seorang pasien psikopat berusia 46 tahun bernama Al. Pada otak Al terbukti ditemukan kelainan. Al tidak dapat memisahkan stimulus yang bersifat rasional dari yang emosional. Semua stimulus diolah sekaligus oleh belahan otak kiri (pusat rasio) dan otak kanan (pusat emosi). Karena itu, menurut Hare, seorang psikopat tidak sekadar berbohong atau hipokrit, tapi juga ada sesuatu yang lebih serius, yakni ada kelainan di otaknya.
Dugaan adanya faktor biologis ini juga muncul dalam laporan Pridmore, Chambers dan McArthur pada 2005. Mereka melaporkan adanya hubungan antara gejala psikopat dengan kelainan sistem serotonin, kelainan struktural, dan kelainan fungsional pada otak. Temuan lain disampaikan pula oleh Litman setahun sebelumnya. Ia menyebutkan, penderita psikopat mengalami kelainan neurologik pada sindrom erotic violence. Pada 2003, Raine juga mengungkapkan ada kelainan Corpus collosum pada sosok psikopat.
Faktor lain penyebab psikopat diutarakan Kirkman (2002). Ia menyatakan, pengidap kepribadian psikopat memiliki latar belakang masa kecil yang tak memberi peluang untuk perkembangan emosinya secara optimal. Anak-anak salah asuh ini akan tumbuh menjadi orang-orang yang tak bisa berempati dan tak memiliki kata hati (consceince).
Faktor genetik dan lingkungan juga berperan besar melahirkan karakter psikopat. Stres atau tekanan hidup yang besar bisa pula merubah perilaku seseorang menjadi brutal. Namun bila sifatnya sementara, karena ada pemicu yang masuk akal, maka tidak bisa dikatakan psikopat. Ciri psikopat sebenarnya bisa dideteksi sejak kanak-kanak melalui berbagai perilaku yang tidak biasa. Perilaku antisosial pada anak-anak ternyata merupakan warisan genetik. Penelitian terhadap anak-anak kembar menunjukkan, anak menunjukkan kecenderungan psikopatik dini. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 3.687 pasang anak kembar berusia tujuh tahun.
Faktor lingkungan fisik dan sosial yang beresiko berkembangnya seorang psikopat menjadi kriminal adalah tekanan ekonomi yang buruk, perlakuan kasar dan keras sejak usia anak, penelantaran anak, perceraian orang tua, kesibukan orangtua, faktor pemberian nutrisi tertentu, dan kehidupan keluarga yang tidak mematuhi etika hukum, agama dan sosial. Lingkungan yang beresiko lainnya adalah hidup ditengah masyarakat yang dekat dengan perbuatan criminal seperti pembunuhan, penyiksaan, kekerasan dan lain sebagainya.

H.    PENANGANAN DAN PENCEGAHAN
Pada dasarnya, psikopat tidak bisa diterapi secara sempurna tetapi hanya bisa terobservasi dan terdeteksi. Untuk tahap pengobatan dan rehabilitasi psikopat saat ini baru dalam tahap kopleksitas pemahaman gejala. Terapi yang paling mungkin adalan non obat seperti konseling. Namun melihat kompleksitas masalahnya, terapi psikopat bisa dikatakan sulit bahkan tidak mungkin. Seorang psikopat tidak merasa ada yang salah dengan dirinya sehingga memintanya datang teratur untuk terapi adalah hal yang mustahil. Yang bisa dilakukan manusia adalah menghindari orang-orang psikopat, memberikan terapi pada korbannya, mencegah timbul korban lebih banyak dan mencegah psikopat jangan berubah menjadi kriminal.
Mendeteksi dini gangguan perilaku pada anak dan pendekatan lingkungan dilakukan dengan baik, sehingga psikopat tidak akan berubah menjadi kriminal.
Selain itu kita juga perlu waspada namun bukan berarti bersikap paranoid dengan keberadaan psikopat, dalam buku Without Conscience memberikan kita beberapa tips atau kiat-kiat untuk melindungi diri dari psikopat :
1.   Usahakan jangan sampai terpengaruh oleh umpan mereka: senyum yang indah, kata-kata manis, atau hadiah yang berlimpah yang dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian anda dari manipulasi atau eksploitasi yang mungkin akan terjadi. Karakteristik ini punya muatan licik yang dimaksudkan untuk mengaburkan pesan individual yang sejati. Berpalinglah, dan konsentrasikan diri pada apa sebenarnya terjadi.
2.   Buka mata. Orang yang tampaknya terlalu sempurna seringkali aslinya jauh berbeda. Psikopat menyembunyikan sisi gelap mereka sampai korban mereka telah terlibat cukup dalam. Pujian berlimpah, kebaikan palsu dan kelemahan dalam cerita yang kedengarannya hebat seharusnya bisa memberi petunjuk dan membuat anda waspada. Cari alasan yang masuk akal untuk menyelidiki mereka.
3.   Kenali diri anda. Jika tidak, anda akan diserang pada titik lemah anda. Psikopat pandai menemukan dan menggunakan kelemahan orang lain. Jadi, semakin anda menyadari hal-hal yang membuat anda gampang terpikat, semakin siap anda membentengi diri.
4.   Tetapkan aturan dasar yang tegas, dan hindari berebut kekuasaan yang tidak mungkin anda menangkan. Psikopat cenderung memegang kendali; bila sikap anda tidak jelas dan lemah, mereka akan mengambil keuntungan. Perjelas, bangun, dan jagalah batasan-batasan yang kuat.
5.   Bila perlu, mintalah bantuan profesional. Korban sering kali bertanya-tanya apakah mereka berkhayal, atau mereka membiarkan kebohongan karena tak tahu apa yang harus dilakukan. Pendapat dari ahli tak hanya mendukung kecurigaan ini, tetapi juga membantu memberi jalan keluar.







Daftar Pustaka

judarwanto, Widodo. 2008. Tidak Semua Psikopat Adalah Kriminal. http://www.kompas.com
Kartono, Kartini. Patologi Sosial (Jilid 1). Jakarta: Raja Grafindo.

Posting Komentar

0 Komentar